Seorang sepupu bertanya padaku: pacarnya jujur dan tidak neko-neko, memperlakukan orang dengan ramah, hanya saja kondisi keluarganya biasa, kurang ambisi—perlu menikah atau tidak?
Aku balik bertanya padanya: sejak kapan jujur dan tidak neko-neko menjadi nilai tambah dalam sebuah pernikahan?
Bukankah itu kualitas paling dasar dalam bersikap terhadap orang? Jujur dan tidak neko-neko, temperamen yang lembut—itu hanya batas minimum, tidak berarti mampu menanggung beban hidup.
Kondisi keluarga yang biasa itu bukan hal yang menakutkan, tapi merasa cukup dengan keadaan yang ada justru paling menyiksa. Jangan berharap setelah menikah hidup orang dewasa bisa berubah. Kamu boleh merasakan pahit bersama, tapi jangan memilih orang yang pasrah pada kemiskinan.
Makna kamu belajar dan mendapatkan pengalaman adalah agar jangan menggunakan dorongan sesaat untuk mempertaruhkan seluruh hidupmu!
Aku balik bertanya padanya: sejak kapan jujur dan tidak neko-neko menjadi nilai tambah dalam sebuah pernikahan?
Bukankah itu kualitas paling dasar dalam bersikap terhadap orang? Jujur dan tidak neko-neko, temperamen yang lembut—itu hanya batas minimum, tidak berarti mampu menanggung beban hidup.
Kondisi keluarga yang biasa itu bukan hal yang menakutkan, tapi merasa cukup dengan keadaan yang ada justru paling menyiksa. Jangan berharap setelah menikah hidup orang dewasa bisa berubah. Kamu boleh merasakan pahit bersama, tapi jangan memilih orang yang pasrah pada kemiskinan.
Makna kamu belajar dan mendapatkan pengalaman adalah agar jangan menggunakan dorongan sesaat untuk mempertaruhkan seluruh hidupmu!
