Selain Satoshi Nakamoto, Justin Sun, James Howell dan Stefan Thomas pada unggahan sebelumnya, Sabtu (09/05), masih ada sejumlah nama lain yang masuk jajaran holder crypto paling tajir di dunia.
Sebagian besar memperoleh kekayaan dari kepemilikan Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) dalam jumlah besar sejak awal berkembang.
Beberapa di antaranya dikenal sebagai pendiri proyek blockchain, investor awal aset digital, hingga pelaku industri mining crypto. Nilai aset yang dimiliki bahkan mencapai triliunan rupiah. Fenomena ini menunjukkan industri crypto telah melahirkan generasi baru crazy rich global lewat pertumbuhan aset digital dalam beberapa tahun terakhir.
Rumor soal keberadaan alien kembali ramai dibahas setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) baru-baru ini merilis 162 dokumen rahasia beserta 20 video terkait Unidentified Flying Object (UFO).
Menariknya, mantan Analis Bank Sentral Inggris Helen McCaw pernah menyebut bahwa pengungkapan makhluk luar angkasa justru bisa memicu Bitcoin (BTC) “to the moon” alias mengalami lonjakan harga.
Pasalnya, ia menilai pengumuman resmi soal alien dapat memicu kepanikan sekaligus euforia ekstrem di masyarakat.
Menurutnya, pasar berpotensi mengalami gejolak besar karena investor bakal kesulitan menentukan nilai aset memakai metode lama. Situasi itu dinilai dapat membuat kepercayaan terhadap sistem keuangan tradisional perlahan melemah.
“Jika pemerintah benar-benar menunjukkan bukti yang tidak terbantahkan soal kehidupan alien, kondisi pasar bisa langsung kacau hanya dalam hitungan jam,” ujar McCaw dalam suratnya.
Ia juga memprediksi Bitcoin berpotensi jadi aset pelarian baru ketika publik mulai meragukan legitimasi pemerintah dan aset berbasis negara. Dalam kondisi seperti itu, mata uang digital dianggap lebih menarik karena sifatnya terdesentralisasi.
“Bisa saja terjadi perpindahan besar ke Bitcoin dan aset crypto lain ketika kepercayaan terhadap aset yang didukung pemerintah (fiat) menurun,” jelas McCaw.
Sementara itu, emas juga diprediksi ikut terdampak, terutama jika teknologi penambangan luar angkasa benar-benar berkembang di masa depan. $BTC #UFO
Pesan Terakhir Satoshi Sebelum Menghilang Bikin Komunitas Crypto Heboh Lima belas tahun lalu, Satoshi Nakamoto tiba-tiba menghilang dari publik. Sosok anonim ini meninggalkan proyek revolusioner Bitcoin tanpa kejelasan identitas maupun jejak lanjutan.
Peristiwa itu terjadi pada 23 April 2011 melalui surel singkat yang dikirim kepada Mike Hearn. Pesan tersebut bukan sekadar pamit, melainkan penanda besar dalam sejarah perkembangan mata uang digital berbasis desentralisasi.
“Saya sudah beralih ke hal lain. Bitcoin berada di tangan yang tepat,” tulis Satoshi.
Dalam isi pesannya, Satoshi menyampaikan dirinya telah beralih ke hal lain dan meyakini Bitcoin sudah berada di tangan yang tepat. Pernyataan itu menunjukkan kepercayaan terhadap komunitas yang akan melanjutkan proyek tersebut.
Sebelum benar-benar menghilang, Satoshi juga disebut telah menyerahkan tanggung jawab pengembangan kepada Gavin Andresen. Langkah ini dianggap strategis agar Bitcoin berkembang tanpa bergantung pada satu figur sentral.
Hingga kini, keberadaan Satoshi tetap menjadi misteri, namun Bitcoin justru terus bertahan dan berkembang pesat. Kondisi ini memperkuat gagasan bahwa sistem tanpa pemimpin tetap bisa hidup selama fondasinya kuat dan didukung komunitas global. $BTC
Bocah 13 Tahun Viral Usai Cuan Puluhan Ribu Dolar di Pumpfun Seorang remaja anonim berusia 13 tahun viral setelah meraup lebih dari US$50.000 atau sekitar Rp800 juta dari peluncuran memecoin di platform Pump fun saat siaran langsung. Dengan modal beberapa ratus dolar, ia lebih dulu menguasai 5% pasokannya sebelum dimulai.
Aksi yang terjadi pada November 2024 lalu itu membuat penonton ikut membeli koin secara real-time hingga harga melonjak tajam. Di tengah euforia, remaja tersebut bahkan melakukan gestur mengejek ke kamera sambil mengklaim keuntungan.
Tak berhenti di satu proyek, ia kembali meluncurkan dua memecoin lain di malam yang sama dengan pola serupa. Aksinya kini viral dan bahkan diliput oleh National Public Radio NPR, meski identitasnya masih belum diketahui. $PUMP
Bitcoin Dinilai Bisa Meroket Jika Harganya Tembus US$88 Ribu Analisis terverifikasi CryptoQuant Burak Kesmeci menilai bahwa Bitcoin (BTC) bisa melanjutkan tren kenaikannya jika harganya bisa menetap di atas US$88 ribu. Hal ini terjadi usai aset tersebut berhasil menembus area psikologisnya, yaitu US$80 ribu.
“Target berikutnya adalah kelompok 3-6 bulan, US$88 ribu. Ini adalah resistensi kritis untuk Bitcoin. Jika harga menetap di atas US$88 ribu, semua kelompok kohort jangka pendek menjadi positif, pemegang jangka pendek beralih ke keuntungan, dan mereka mulai menceritakan kisah sukses kepada semua orang di sekitar mereka,” catatnya melansir platform CryptoQuant, Minggu (10/05).
Menurutnya, para pelaku pasar jangka pendek merupakan mesin bagi momentum pasar. Sehingga, ketika mereka mengalami keuntungan, hal itu bisa menjadi indikator pergerakan pasar, begitu pun sebaliknya.
Sekolah di Skotlandia Kasih Full Beasiswa bagi Muridnya dengan Bitcoin,Lomond School, sekolah independen di Helensburgh, Skotlandia, menawarkan beasiswa Bitcoin selama dua tahun penuh. Program ini menanggung biaya sekolah sekaligus asrama bagi satu siswa terpilih.
Langkah ini melanjutkan inovasi mereka setelah sebelumnya menerima Bitcoin sebagai pembayaran biaya pendidikan sejak tahun lalu.
Program bertajuk “Satoshi Scholarship” ini didukung donasi komunitas Bitcoin global dan dibuka untuk pelajar dari berbagai negara. Pendaftaran yang tersedia hingga 24 Mei itu, menyasar siswa dengan minat pada inovasi dan ekonomi masa depan.
Kepala Sekolah Claire Chisholm menyampaikan pihaknya sangat senang menerima dukungan tersebut. Ia menilai donasi ini mencerminkan antusiasme komunitas Bitcoin dan berharap bisa menarik siswa dengan visi serupa dari seluruh dunia.
Analis: Bukan Bitcoin atau Emas yang Mati, Tapi Fiat,Chief Investment Officer (CIO) Bitwise Matt Hougan mengungkapkan bukan Bitcoin (BTC) atau emas yang melemah, namun mata uang fiat. Secara, akhir-akhir ini banyak nilai tukar mata uang negara di dunia mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Tiga bulan lalu, Bitcoin dianggap sudah mati. Sekarang, tampaknya, emaslah yang dianggap sudah mati. Saya beri petunjuk: Yang sebenarnya sudah mati adalah mata uang fiat,” ujarnya melansir akun X miliknya pada Minggu (10/05).
Sebagai contoh, rupiah sempat menjadi mata uang terlemah ke-5 di dunia terhadap dolar, menurut laporan Forbes Advisor per April 2026. Di mana, rupiah bersama rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.
Di sisi lain, Bitcoin mencatat performa lebih kuat dibanding emas sejak konflik Iran pecah pada Februari 2026. Di tengah kondisi geopolitik yang memanas, aset crypto terbesar itu justru bergerak naik saat emas kehilangan momentumnya.
Sejumlah data pelacak pasar menunjukkan Bitcoin naik sekitar 7% hingga 10% selama periode perang berlangsung. Sebaliknya, harga emas cenderung stagnan bahkan sempat terkoreksi lebih dari 3% dalam beberapa pekan terakhir. $BTC #emas
Deretan Crazy Rich Penguasa Dunia Crypto,Deretan holder crypto terbesar di dunia kembali menjadi sorotan karena nilai aset mereka yang mencapai ribuan triliun rupiah. Nama seperti Satoshi Nakamoto, Justin Sun, hingga Vitalik Buterin diketahui memiliki kepemilikan aset digital dalam jumlah sangat besar.
Namun, tidak seluruh kisah para crazy rich crypto berakhir manis. Beberapa orang seperti James Howells dan Stefan Thomas justru kehilangan akses terhadap wallet mereka yang berisi aset bernilai triliunan rupiah.
Fenomena tersebut menunjukkan industri crypto tidak hanya menawarkan potensi keuntungan besar, tetapi juga memiliki risiko tinggi, terutama terkait keamanan private key dan akses wallet digital.
Teknologi Vaksin Drone Bisa Jadi Solusi di Tengah Wabah Hantavirus,Profesor Kimia Asel Sartbaeva dari Universitas Bath, Inggris bersama timnya berencana membuat solusi pengiriman vaksin menggunakan drone untuk menjangkau area-area terisolir, termasuk di laut lepas.
Ide ini muncul jauh sebelum endemi hantavirus terjadi di kapal pesiar MV Hondius, yang sedang berlayar di Samudra Atlantik. Setidaknya, ada tiga orang yang dilaporkan tewas akibat kejadian tersebut.
Sang profesor pun mengembangkan ide tersebut selama 15 tahun dan diharapkan bisa diterapkan pada peristiwa ini. Bersama timnya ia mengembangkan metode Insilication, yaitu memungkinkan vaksin dilapisi material anorganik yang tipis agar bisa terjaga tetap stabil.
“Kami telah menambahkn stabilisasi termal di atasnya untuk membuat vaksin tersebut tahan terhadap perubahan suhu sehingga kami dapat melakukan, misalnya, pengiriman menggunakan drone,” ujarnya melansir BBC pada Jumat (08/05). #Hantavirus
Market Hijau Lagi, Haruskah Kita FOMO? Market crypto kembali hijau setelah Bitcoin mantul di 50 MA weekly. Tapi sebelum ikut euforia, ada beberapa hal penting yang perlu diingat.
#1 Jangan FOMO. Mengejar candle hijau sering berakhir jadi korban candle merah. Tunggu retracement, evaluasi bias, dan jangan masuk dengan emosi—apalagi pakai leverage.
#2 Patuhi Strategi & Mindset Jangka Panjang. Market bullish bukan alasan ubah rencana. Kalau porsi altcoins cuma 5% porto, jangan tiba-tiba naikin ke 50%. Disiplin = bertahan lama.
#3 Gunakan Pump Untuk Take Profit. Kadang pump adalah peluang keluar dengan untung. Kalau sudah menunggu lama, manfaatkan momentum itu untuk realisasi keuntungan.
#4 Siapkan Mental & Ekspektasi. Pump bisa diikuti retracement kapan saja. Tetap rasional, jaga emosi, dan selalu siap dengan skenario terburuk.
Tips Trading Crypto Harian Untuk Pemula Banyak pemula ingin mulai trading harian, tapi belum tahu dasar pentingnya. Ini 4 hal yang wajib kamu pahami sebelum terjun ke market!
#1 Mulai Dari Aset Besar. Fokus dulu pada Bitcoin dan Ethereum — volatilitasnya lebih terukur dan mudah dibaca dibanding altcoin kecil yang pergerakannya liar.
#2 Latihan di Timeframe Kecil. Gunakan timeframe kecil untuk memahami pola pergerakan dan membaca momentum. Di sini kamu belajar kecepatan dan ketepatan entry–exit.
#3 Kuasai Support, Resistance & Trend. Pahami area kuat dan lemah harga. Tanpa technical analysis dasar, kamu hanya menebak—bukan trading.
#4 Manajemen Risiko Adalah Segalanya. Batasi risiko per trade 1–3%. Kamu tak perlu selalu benar, cukup disiplin menjaga modal agar bisa bertahan lama di game ini.
Sebuah langkah unik terjadi di Afrika ketika mahasiswa mulai menggunakan Bitcoin (BTC) untuk transaksi nyata di lingkungan kampus. Inovasi ini langsung mencuri perhatian karena dianggap sebagai terobosan modern dalam sistem pembayaran digital.
Universitas Goma di Republik Demokratik Kongo resmi menjadi perguruan tinggi pertama di Afrika yang menerima pembayaran menggunakan Bitcoin.
Momentum ini ditandai dengan aksi mahasiswa yang membeli 25 ayam dari peternakan kampus menggunakan aset crypto tersebut.
Transaksi ini bukan sekadar uji coba biasa, melainkan bagian dari penerapan langsung teknologi finansial di kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dan pelaku usaha kampus sebelumnya telah diperkenalkan dengan konsep crypto sejak Maret lalu.
“Inisiatif ini menggambarkan komitmen UNIGOM untuk mendukung inovasi, kewirausahaan, dan adaptasi terhadap perubahan teknologi,” tulis pihak kampus dalam sebuah unggahan di LinkedIn.
Langkah ini menunjukkan komitmen kampus dalam mendukung inovasi, kewirausahaan, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi global. Eksperimen tersebut juga membuka peluang baru bagi ekosistem digital di lingkungan pendidikan Afrika.
Raksasa Investasi Diam-Diam Borong Bitcoin Rp10 Triliun dalam Sehari Para raksasa manajer investasi diam-diam memborong Bitcoin (BTC) senilai US$630 juta atau sekitar Rp10,9 triliun dalam sehari, Jumat (01/05), melansir data Arkham Intelligence.
Peristiwa ini menandakan minat para pelaku pasar meningkat meski harga dari aset tersebut sedang stagnan. Hal tersebut mencerminkan kembalinya kepercayaan investor untuk menambahkan eksposur portofolionya terhadap aset digital.
Diketahui, manajer investasi terbesar dunia BlackRock menjadi pembeli terbanyak yang menggelontorkan US$284 juta, diikuti Fidelity Investments dengan US$213 juta, terakhir ARK Invest US$88,5 juta.
Sebagai informasi, pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin (BTC) secara mendadak menerima arus dana masuk atau inflow US$629 juta dalam sehari, pada Jumat (01/05) lalu, menurut data SoSoValue. #blackRock $BTC
Sempat Perkasa, Bitcoin Kini Terdepak dari Posisi 10 Aset Terbesar Dunia
Bitcoin ($BTC ) yang sempat tampil dominan kini harus rela turun peringkat dari daftar 10 aset terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Posisinya digeser oleh raksasa teknologi dan komoditas global.
Melansir CompaniesMarketCap, Rabu (06/05), Bitcoin berada di peringkat ke-11 dengan US$1,63 triliun. Di atasnya, ada nama besar seperti emas, NVIDIA, Alphabet, hingga Saudi Aramco.
Sebagai perbandingan, pada Juli 2025 lalu Bitcoin sempat mencetak sejarah dengan melonjak drastis hingga menjadi aset paling bernilai kelima. Kenaikan itu terjadi setelah harga menyentuh rekor baru.
Kala itu, Bitcoin menembus angka sekitar US$121 ribu pada 14 Juli dan mendorong kapitalisasi pasarnya ke kisaran US$2,39 triliun. Lonjakan cepat ini bahkan sempat membuatnya melampaui perak, Amazon, dan Alphabet.
EO Google DeepMind Demis Hassabis mengatakan tenaga kerja pemula dan magang akan mulai berkurang akibat adanya artificial intelligence (AI). Menurutnya, kedua posisi itu rentan terhadap AI. “Saya kira tahun ini kita akan melihat awal mula dampaknya pada level junior. Saya kira ada beberapa bukti, saya sendiri merasakannya, mungkin seperti perlambatan dalam perekrutan di bidang itu,” ucapnya di World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss, melansir sebagai sumber. Di lain sisi, CEO Anthropic Dario Amodei membenarkan bahwa awal-awal peristiwa ini tengah terjadi, terutama di bidang perangkat lunak dan pemrograman. Dirinya tengah merasakan hal tersebut di lingkungan kerjanya sendiri di tingkat junior maupun menengah. Adapun, menurut Future of Jobs Report 2025 milik World Economic Forum mengungkap 40% perusahaan ingin melakukan pengurangan tenaga kerja di bidang yang tugas-tugasnya dapat diotomasi dengan AI. #Ai
CEO Capital Management Anthony Pompliano mengatakan Bitcoin (BTC) saat ini jauh lebih aman dan cenderung stabil. Hal ini berdasarkan perjalanan sejarah Bitcoin yang dihadapi beberapa peristiwa buruk.
“Bitcoin jauh lebih aman saat ini daripada di titik mana pun dalam sejarah aset ini,” ucapnya, melansir akun X miliknya.
Menurutnya, Bitcoin telah melewati berbagai peristiwa dan situasi ekonomi yang mampu bertahan tanpa harganya jatuh hingga nol. Faktanya, saat krisis likuiditas pandemi Covid-19 tahun 2020, justru aset ini tumbuh hingga 303% di akhir tahun itu, menurut data SlickCharts.
Lalu, peristiwa keruntuhan FTX di tahun 2022 yang mengguncang pasar crypto. Aset tersebut memang mengalami penurunan sekitar 64% selama tahun tersebut.
Akan tetapi, di tahun 2023 pasca Covid-19 The Federal Reserve (The Fed) mendadak menaikkan suku bunga dengan cepat dalam sejarahnya. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap Bitcoin, namun faktanya aset ini justru tumbuh mencapai 155%.
Dengan demikian, peristiwa-peristiwa besar yang terjadi selama perjalanan Bitcoin hingga kini, mencerminkan ketahanan aset tersebut di berbagai situasi ekonomi. $BTC
Dalam forum BitcoinTalk, Satoshi Nakamoto mengirimkan berbagai macam pesannya terkait aset ciptaannya, bagaimana sistem bekerja, dan bagaimana mengantisipasi kemungkinan terjadi di masa depan.
Di sana, Satoshi juga mengirimkan pesan terakhir yang berisikan pembaruan teknis dan peringatan soal banyaknya pekerjaan terkait serangan DoS, sebelum menghilang dari publik selamanya.
“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait [serangan penolakan layanan] DoS,” bunyi pesan terakhir Satoshi 15 tahun lalu.
Selama lebih dari dua tahun sejak merilis white paper Bitcoin pada Oktober 2008, Satoshi Nakamoto aktif membangun dan memandu komunitas crypto yang masih sangat kecil.
Ia memperkenalkan konsep Bitcoin, berkomunikasi melalui 17 email awal, dan merilis versi pertama piranti lunak Bitcoin pada Januari 2009.
Pada akhir tahun 2010, aktivitas publiknya berhenti. Kemudian hampir setahun kemudian pada April 2011, ia mengirim email terakhir kepada pengembang Gavin Andresen bahwa ia sudah beralih ke hal lain. $BTC #satoshiNakamato
Quantum computing yang makin berkembang menimbulkan ancaman potensial bagi Bitcoin. Namun CEO Tether Paolo Ardoino mengatakan ancaman itu masih jauh dan tidak akan mengubah total suplainya.
Saat teknologi kuantum siap, para pengguna yang masih memiliki akses ke dompet mereka akan memindahkan koin ke alamat yang “quantum-resistant,” yang membuat aset mereka tetap aman.
Dalam skenario seperti itu, hanya Bitcoin di dompet yang benar-benar hilang atau tak bisa diakses, termasuk sekitar 1 juta BTC yang diyakini milik Satoshi, yang berpotensi diretas dan kembali beredar.
Trader Crypto Skull mendukung pandangan ini, menegaskan bahwa kriptografi Bitcoin bisa berevolusi sebelum ancaman itu tiba.
Dompet-dompet awal milik Satoshi yang berisi sekitar 1,1 juta BTC dinilai sangat aman karena perlindungan kriptografi Bitcoin masih kuat.
Meski sebagian besar address Satoshi menggunakan format lama yang menampilkan public key di blockchain. Keamanan ECDSA dengan kurva secp256k1 tetap memberi tingkat perlindungan setara 128-bit. Ini memaksakan private key secara brute force praktis mustahil.
Tidak ada bug historis yang pernah membocorkan kunci privat Satoshi, bahkan komputer hipotetis super cepat pun butuh waktu lebih lama dari usia alam semesta untuk menebaknya. Ancaman paling realistis adalah komputer kuantum, karena algoritma Shor dapat memecahkan ECDSA.
Meski begitu, teknologi kuantum yang dibutuhkan masih sangat jauh, bahkan memerlukan jutaan qubit fisik yang belum tercapai. Estimasi ancaman nyata baru mungkin muncul 2029–2033. Jika komputer kuantum besar benar-benar muncul, bukan hanya dompet Satoshi yang berisiko, tetapi seluruh alamat lama Bitcoin.
Pada titik itu, jaringan hampir pasti melakukan upgrade darurat. Jadi, Satoshi hanya bisa diretas jika terjadi lompatan kuantum besar dan Bitcoin gagal beradaptasi, dua hal yang sangat tidak mungkin terjadi bersamaan. $BTC
Portofolio investasi Harvard University lebih condong ke Bitcoin (BTC) dengan nilai US$443 juta, sedangkan posisi emasnya hanya US$235 juta, melansir laman resmi Securities and Exchange Commission (SEC).
Hal tersebut membuat CIO Bitwise Matt Hougan bereaksi di X yang meminta untuk berpikir sejenak. Sebab, langkah Harvard yang berani mengalokasikan investasinya lebih besar di Bitcoin daripada emas.
“Coba pikirkan sejenak, Harvard memutuskan untuk melakukan perdagangan penurunan nilai dan mengalokasikan Bitcoin dengan rasio 2 banding 1 dibandingkan emas,” tulisnya melansir akun X miliknya.
Diketahui, Harvard memanfaatkan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin milik BlackRock (IBIT) untuk mengelola investasinya di aset crypto tersebut. Selain itu, universitas ini juga memakai jasa ETF emas milik State Street Global Advisors Gold (SPDR).
Tak tanggung-tanggung, porsi investasi Harvard bahkan lebih banyak di ETF Bitcoin dari semua aset di portofolionya. Seperti, saham Microsoft sebesar US$322 juta, saham Amazon US$235 juta, dan saham induk Google senilai US$157 juta. $BTC #harvard