Menurut CNBC, kematian seorang teknisi laboratorium yang belum terjelaskan di sebuah lembaga penelitian Rusia yang menangani bakteri pes memicu pertanyaan dari para pakar penyakit menular. Sementara itu, laporan setempat menyebutkan bahwa sekitar 200 orang telah menjalani observasi medis atau dikarantina di wilayah Irkutsk, Siberia. Badan pengawas kesehatan masyarakat Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan situasi terkendali dan tidak ditemukan mikroorganisme yang terkait dengan pekerjaan pasien dalam sampel tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan penyebab kematian masih belum dipastikan dan orang-orang yang melakukan kontak sedang dipantau.
Javier Pizarro-Cerda, kepala Unit Penelitian Yersinia di Institut Pasteur di Paris, mengatakan bahwa ia sangat terkejut dengan laporan dari Rusia karena orang-orang yang bekerja menangani wabah pes biasanya menggunakan perlengkapan pelindung lengkap, termasuk pakaian pelindung seluruh tubuh, masker, dan sarung tangan. Ia juga mengatakan bahwa Rusia memiliki vaksin pes, tetapi vaksin tersebut tidak memenuhi standar yang diharapkan di tempat lain dan hanya memberikan perlindungan rendah yang bertahan singkat. WHO mengatakan bahwa semua orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien dilaporkan telah teridentifikasi dan sejauh ini tidak ada yang menunjukkan gejala.
