Laporan yang muncul hari ini mengindikasikan bahwa Bank of Japan (BOJ) cenderung menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan bulan ini yang akan datang. Pejabat bank sentral Jepang secara aktif mempertimbangkan penyesuaian suku bunga ini sebagai respons terhadap risiko inflasi ke atas yang terus berlanjut, didorong oleh meningkatnya harga layanan dan melemahnya yen. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 30 tahun turun 11 bps menjadi 4,055% karena pasar menyesuaikan kembali ekspektasinya.

Perubahan kebijakan ini membawa implikasi makro yang sangat besar karena secara tegas menandakan bahwa Jepang terus melanjutkan langkah keluar dari kebijakan moneter ultra-longgar selama puluhan tahun. Meskipun kenaikan 50 bps dinilai sangat tidak mungkin—membantu meredakan kekhawatiran akan adanya guncangan pengetatan yang agresif—kenaikan 25 bps tetap mengonfirmasi bahwa BOJ berkomitmen untuk menormalkan suku bunga secara fleksibel seiring kondisi ekonomi selaras dengan perkiraan.

Prospek suku bunga Jepang yang lebih tinggi secara langsung mengancam likuiditas global melalui proses pembalikan yen carry trade yang masih berlangsung. Ketika selisih imbal hasil antara Jepang dan negara-negara ekonomi besar lainnya menyempit, modal yang sebelumnya dipinjam dengan murah dalam yen untuk membiayai aset berimbal hasil lebih tinggi di seluruh dunia berisiko ditarik kembali, sehingga mendorong yen naik dan memicu volatilitas di seluruh ekuitas dan obligasi pemerintah global.

Bagi pasar kripto, percepatan kenaikan suku bunga BOJ menciptakan hambatan likuiditas yang langsung bagi aset berisiko ber-beta tinggi.