Sebelum kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, hubungan bilateral dengan pemerintahan dari Partai Demokrat Joe Biden mengalami masa-masa tegang, meskipun kemudian mencatat beberapa upaya pendekatan.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Thomas Pigott, menyatakan bahwa Pemerintahan Donald Trump berharap dapat mengadakan KTT ekonomi dengan El Salvador untuk memperdalam hubungan antara kedua negara dan mempromosikan kepentingan bersama mereka, demikian laporan Kedutaan Besar AS.
“Amerika Serikat berharap dapat menyelenggarakan KTT ekonomi antara dua negara kita untuk memperdalam aliansi penting kami dengan El Salvador dan terus mendorong kepentingan ekonomi bersama kami,” ujar Pigott.
Pigott juga menekankan bahwa Presiden Nayib Bukele “adalah salah satu mitra kami yang paling berharga di kawasan ini”.
Pengumuman Kedutaan Besar Amerika Serikat tidak mencantumkan, untuk saat ini, tanggal maupun rincian mengenai agenda pertemuan tersebut. Namun, pengumuman itu muncul ketika lebih dari 170.000 imigran asal El Salvador sedang berada dalam ketidakpastian dan dalam perlombaan melawan waktu untuk mencegah dideportasi, kurang dari sebulan sebelum Status Perlindungan Sementara (TPS) untuk El Salvador berakhir—manfaat yang menjadi sorotan Pemerintah Presiden Donald Trump sejak masa jabatan pertamanya.
TPS bagi warga El Salvador akan berakhir pada 9 September mendatang, dan berakhirnya izin tersebut akan membuat para penerima manfaat tanpa izin kerja serta berisiko dideportasi.
Pada November 2021, saat itu Kuasa Usaha Kedutaan Besar Amerika Serikat di El Salvador, Jean Manes, mengatakan kepada para jurnalis bahwa hubungan antara kedua negara “tidak kokoh”. Selain itu, Bukele menjadi sorotan dalam beberapa konfrontasi di X dengan pejabat dari Administrasi Biden.
Sejak kembalinya Trump berkuasa, Pemerintahannya telah menjadi salah satu dukungan internasional utama bagi Presiden Bukele, dengan mendukung reformasi konstitusi yang memungkinkan pencalonan ulang presiden secara tanpa batas dan menolak tuduhan atas pelanggaran hak asasi manusia.
Salah satu episode yang mencerminkan kedekatan itu terjadi lewat deportasi lebih dari 200 migran Venezuela ke sebuah penjara berkeamanan maksimum di El Salvador. Para migran tersebut kemudian dikirim kembali ke Venezuela sebagai bagian dari pertukaran narapidana.
