Di meja kartu, teman-teman memaki orang yang menggoreng koin kripto dengan sebutan bodoh—dan aku diam-diam menyembunyikan ponsel.

Saat Tahun Baru pulang ke kampung, si gendut mengadakan permainan kartu: dadu sapi (dou niu). Ada lima orang, masing-masing membawa dua ribu.

Si gendut duduk berhadapan. Dia menang terus tiga ronde, sambil mengisap rokok dengan penuh gaya.

"Keponakanmu tahun ini kok nggak datang?" tanya Lao Wang.

"Ketangkap karena main judi online sama orang, dihukum tiga tahun lebih," kata si gendut, sambil menggeleng.

"Kalau hidupnya lewat jalan yang benar, cari uang cepat itu hasilnya yang baik ada berapa?" kata si gendut sambil mengocok kartu.

Aku memegang kartu sampah, tapi pikiranku ada di hal lain. Ponsel di saku terang-terangan menunjukkan—KAITO rugi melayang 1200U, dan makin jatuh.

"Orang-orang yang menggoreng Bitcoin juga sama, pengin cari untung cepat…" Lao Wang tiba-tiba menyela.

Jantungku langsung berdetak kencang.

"Katanya masih ada yang sampai bust lalu nekat lompat dari gedung," lanjut si gendut.

"Iya, orang bodoh. Rugi itu ya akibat ulah sendiri," kata Lao Wang sambil membuang kartu.

Aku melirik ponsel di saku, lalu kartu di depanku. Kartu campur—nggak ada apa-apanya, sama seperti posisi tambangku.

"Kenapa, Niu Emas, kamu nggak ngomong? Buang kartu!" si gendut mendesak.

"Oh," kataku, lalu asal melempar satu kartu.

"Anak muda nggak kerja dengan bener, tiap hari cuma ngeliatin K line, mau kelihatan apa lagi?" Lao Wang terus bicara.

"Mending waktu segitu belajar keterampilan. Aku jualan online udah setahun, bisa sepuluh-an juta—stabil," kata si gendut.

Sepuluh-an juta. Aku hitung kerugianku dari kontrak, ternyata juga nggak jauh dari sepuluh-an juta. Mereka untung sepuluh-an juta, aku rugi sepuluh-an juta—arahnya terbalik.

"Niu Emas, tahun ini gimana?" tanya Lao Wang.

"Lumayan," jawabku. Ponsel di saku bergetar lagi, tapi aku nggak berani ngeluarin.

"Kamu jangan juga ngelakuin hal-hal itu," peringat si gendut, menatapku seperti menahan.

"Nggak. Jujur kerja," aku tertawa kecil, telapak tanganku agak berkeringat.

Ronde terakhir: Niu sembilan, bagus. "—ayo," lalu semua chip dilempar.

Si gendut membalik kartu—niuniu.

Melihat si gendut mengambil semua chip, aku teringat KAITO yang dulu dari 0.82 jatuh ke 0.71. Kupikir aku pegang kartu bagus, tapi ternyata lawanku niuniu.

Permainan bubar. Aku keluarkan ponsel: KAITO 0.69, dan makin jatuh.

"Kok masih ngeliat HP?" Lao Wang mendekat.

Langsung kunci layar. "Cuma lihat waktu."

Duduk di meja kartu yang kosong, uang di saku—dua ribu—habis jadi seribu tiga ratus. Posisi rugi seribu dua ratus. Total dua ribu lima, hilang dalam sehari.

Uang di meja kartu minimal bisa kelihatan lawannya siapa. Uang di kontrak… bahkan siapa yang memangkas kamu pun kamu nggak tahu.

#币圈日常 #合约爆仓 $KAITO