Jika Anda mengikuti pasar, mungkin Anda memperhatikan bahwa emas kembali menguat sementara mata uang kripto bergerak dengan lambat. Ini mungkin terdengar aneh, terutama mengingat adanya pembicaraan tentang kemajuan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam kondisi normal, meredanya ketegangan geopolitik dapat menekan emas karena emas adalah aset defensif. Namun kali ini ada faktor lain yang lebih berpengaruh: penurunan harga minyak dan melemahnya dolar. Ketika dolar melemah, emas cenderung naik karena menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari perlindungan nilai bagi uang mereka.

Tapi apakah itu berarti pasar sudah memasuki fase kenaikan panjang? Menurut saya, jawabannya tidak.
Masih ada dua hambatan besar:
🔴 Perkiraan berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter dan kemungkinan kenaikan suku bunga.
🔴 Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat, yang mendukung dolar dalam jangka menengah dan mengekang selera terhadap risiko.

Adapun saham, ceritanya berbeda. Berlanjutnya kinerja laba yang kuat, khususnya untuk perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan, itulah yang menopang indeks-indeks AS sejauh ini.

Untuk kripto, yaaa... 😂
Likuiditas masih lemah. Para investor menunggu pemicu yang jelas, baik berupa pengumuman final terkait berkas Iran maupun perkembangan regulasi seperti CLARITY Act. Jadi, meskipun ada lonjakan balik yang mungkin kita lihat, pasar masih membutuhkan arus likuiditas baru yang menegaskan dimulainya tren naik yang benar-benar nyata.
Kesimpulan: Saya tidak melihat waktu yang tepat untuk mengejar kenaikan apa pun. Selama dolar didukung oleh imbal hasil obligasi dan kebijakan moneter, yang terbaik adalah memperlakukan setiap kenaikan pada emas, saham, atau mata uang kripto sebagai peluang untuk mengambil keuntungan dan mengelola risiko—bukan sebagai jaminan awal gelombang kenaikan panjang.
Menurut Anda, apakah pasar benar-benar mulai mengubah arah, atau kehati-hatian masih menjadi pilihan terbaik?

#IranOmanAgreeOnHormuzShippingRoute
