Bank Sentral Eropa baru saja melontarkan peringatan yang sedikit orang menyangka: stablecoin dapat menguras simpanan bank secara besar-besaran jika adopsinya terus dipercepat.

Logikanya sederhana. Jika pengguna memilih menyimpan USDT atau USDC di dompet—dengan akses 24/7, tanpa perantara, dan imbal hasil (yield) di protokol DeFi—daripada menyimpan uang di rekening giro yang membayar 0%, maka bank kehilangan sumber pendanaan termurah mereka: simpanan.

Tanpa simpanan, bank tidak bisa menyalurkan kredit. Tanpa kredit, tidak ada ruang bagi bisnis perantara. Modelnya runtuh.

ECB tidak sendiri. The Fed dan Bank of England juga menelaah risiko yang sama sejak 2023. Iringannya: CBDC (mata uang digital bank sentral) dirancang sebagian untuk bersaing dengan stablecoin swasta. Tapi sampai sekarang, tidak ada CBDC Barat yang benar-benar mendapat daya tarik (traction) nyata.

Sementara itu, stablecoin terus bertumbuh. Circle minggu ini memperoleh lisensi perbankan federal penuh di AS. Tether mengelola volume harian lebih besar daripada Visa di beberapa jalur pembayaran tertentu. Tokenisasi aset di blockchain untuk saham dan obligasi—yang disebut di trending topics hari ini—maju tanpa henti.

Pertanyaannya bukan apakah stablecoin akan bersaing dengan bank. Mereka sudah melakukannya. Yang dipertanyakan adalah seberapa cepat regulator akan turun tangan, dan apakah intervensi itu akan menghentikan atau justru mengesahkan model tersebut.

Untuk saat ini, pasar tetap bergerak. Bitcoin di $64,5K, indeks ketakutan di 29. Struktur makro sedang berubah, tetapi berjalan pelan.

Menurutmu, apakah bank tradisional bisa beradaptasi, atau stablecoin sudah memenangkan perlombaan untuk simpanan digital? Tulis pendapatmu di kolom komentar.

#ECBWarnsStablecoinsMayDrainBankDeposits