#霍尔木兹海峡 Harga minyak naik, saham AS turun, tapi BTC tidak ikut ambruk.

Banyak orang mengira ini karena bitcoin semakin kuat. Namun menurut saya, pasar saat ini sedang memperdagangkan dua logika yang berbeda.

Situasi di Timur Tengah terus meningkat, risiko Selat Hormuz belum juga mereda, Brent kembali menembus kisaran 90 dolar, dan WTI menguat secara bersamaan. Yang benar-benar memengaruhi pasar bukan sekadar pasokan, melainkan risiko pengangkutan. Selama situasi di selat belum membaik, harga minyak sulit turun cepat.

Kenaikan harga minyak juga membuat pasar kembali khawatir inflasi akan kembali naik, sehingga saham teknologi AS dan sektor AI belakangan ini terus mendapat tekanan.

Namun, performa BTC justru lebih stabil dari perkiraan, kembali bertengger di sekitar 65.000 dolar. Di saat yang sama, ETF bitcoin spot AS dalam beberapa hari perdagangan terakhir kembali menunjukkan arus masuk bersih, yang mengindikasikan masih ada dana institusional yang menyerap di sekitar 60.000 dolar.

Meski begitu, saya rasa kita belum bisa buru-buru menyerukan bull market.

Dana ETF memang kembali, tetapi keberlanjutannya masih perlu dicermati; jika harga minyak terus mendorong inflasi, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bisa kembali bergeser, dan tekanan likuiditas tetap akan membatasi aset berisiko.

Ke depan, saya hanya fokus pada tiga hal:

① Apakah Brent bisa bertahan di atas 90 dolar;
② Apakah BTC bisa menjaga level 65.000 dolar;
③ Apakah ETF BTC spot dapat terus mempertahankan arus masuk bersih.

Satu kalimatnya: yang benar-benar menentukan gelombang berikutnya bukanlah siapa yang berteriak bull market, melainkan situasi Timur Tengah, harga minyak, dan The Fed—siapa yang lebih dulu menemukan titik balik.

#比特币 #原油 #美伊一旦开战🔥🔥🔥