Ada satu hal yang kusadari setelah membaca tentang attestation dan verifiable receipts: sesuatu yang kita sebut sebagai “kepercayaan” dalam sistem digital sedang berubah dengan sangat cepat.

Dulu, aku selalu berpikir kepercayaan dibangun dari manusia. Kita percaya pada reputasi sebuah organisasi, pada laporan auditor, pada berkas bank, atau bahkan sekadar pada ingatan orang-orang yang terlibat. Namun di dunia blockchain, pertanyaannya tampaknya tidak lagi “Haruskah aku mempercayaimu?” melainkan “Bisakah kamu membuktikannya?”

Justru pergeseran dari trust ke verifiability itulah yang membuat saya merasa menarik.

Hal yang mengubah cara pandang saya adalah menyadari bahwa verifiable receipt tidak dibuat untuk meyakinkan siapa pun pada saat ia pertama kali muncul. Ia hanya diam-diam ada, mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun tidak pernah disebut-sebut, sampai suatu saat terjadi audit atau sebuah sengketa. Saat itu, yang semua orang kembali lihat bukanlah ingatan, email, atau spreadsheet, melainkan sebuah bukti yang sudah dicatat dan tidak bisa diubah setelahnya.

Mungkin itulah sebabnya attestation bernilai. Ia tidak menumbuhkan kepercayaan lewat kata-kata, melainkan lewat kemampuan untuk dapat diverifikasi kapan saja.

Saya juga menyadari hal lain: selama semua tindakan akan dicatat dan bisa diambil kembali nanti, manusia mulai bersikap berbeda. Tidak perlu mekanisme pemaksaan yang terus-menerus, dan juga tidak perlu ada seseorang di belakang yang mengawasi sepanjang waktu. Kemampuan untuk dapat diverifikasi saja sudah cukup untuk mengubah perilaku. Ini membuat saya teringat pada kamera lalu lintas yang tidak selalu diawasi secara langsung, tetapi hanya dengan mengetahui bahwa kamera sedang merekam, sebagian besar dari kita akan mengemudi dengan lebih hati-hati.

Namun, hal yang paling banyak membuat saya berpikir justru ada pada sudut pandang yang lain.

Sebuah receipt bisa mencatat dengan sangat akurat hasil akhir dari suatu peristiwa, tetapi ia tidak mencatat seluruh perjalanan menuju hasil tersebut. Sebuah settlement yang melibatkan negosiasi, perbedaan pendapat, dan penyesuaian selama berbulan-bulan pada akhirnya hanya tersisa sebagai catatan singkat dengan timestamp dan hash. Seluruh proses telah dipadatkan menjadi satu hasil saja.

Hal itu sangat membantu untuk verifikasi, tetapi juga membuat saya bertanya-tanya: apakah kita perlahan-lahan menyamakan apa yang tercatat dengan seluruh kebenaran?

Sebuah receipt bisa saja jujur, tetapi tetap saja hanya sepotong kecil dari sebuah peristiwa. Ia tidak memuat konteks, emosi, perdebatan, atau berbagai perubahan keputusan sebelum akhirnya mencapai hasil terakhir. Jika suatu hari orang-orang hanya melihat catatan untuk membangun kepercayaan, apakah proses yang melahirkan hasil itu masih akan diperhatikan lagi?

Mungkin inilah hal yang paling layak direnungkan bagi saya. Blockchain membantu kita membangun kepercayaan dengan bukti yang bisa diverifikasi, alih-alih bergantung pada manusia, tetapi kepercayaan dan kebenaran tidak pernah benar-benar menjadi dua hal yang sama. Bukti bisa sangat akurat, tetapi kebenaran selalu lebih luas daripada apa yang bisa disimpan oleh sebuah catatan.

Mungkin masa depan Web3 tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kita mencatat data, tetapi juga oleh apakah kita masih ingat bahwa di balik setiap receipt selalu ada sebuah cerita panjang yang jauh lebih besar daripada sekadar catatan itu.

@NewtonProtocol $NEWT #newt

$quq $NEX