Setiap kali Bitcoin nge-drop parah, muncul pertanyaan yang sama: "Apa sudah menyentuh titik terendah?" Masalahnya, kebanyakan orang mencoba menjawab itu dengan emosi, headline, atau intuisi. Di sinilah alat seperti Ratio AHR999 berperan.
Indikator ini lahir pada tahun 2018 dengan ide yang cukup sederhana: mencoba mengukur apakah Bitcoin mahal, murah, atau bergerak dalam perilaku historis normalnya. Untuk melakukannya, indikator ini membandingkan harga saat ini dengan rata-rata bergerak 200 hari dan pertumbuhan historis jaringan dalam jangka panjang.
Hasilnya adalah angka yang cukup sederhana untuk dibaca, tetapi sangat menarik ketika pasar memasuki ketakutan ekstrem.
Secara historis, ketika rasio jatuh di bawah 0.45, Bitcoin biasanya memasuki apa yang banyak orang anggap sebagai 'zona akumulasi'. Ini adalah momen ketika harga menjauh jauh dari tren historisnya dan biasanya bertepatan dengan kepanikan, kapitulasi, atau kelelahan pasar.
Antara 0.45 dan 1.20, perilaku masuk ke zona yang lebih netral. Di sinilah banyak investor melakukan pembelian terjadwal tanpa mencoba menebak titik terendah yang tepat.
Dan ketika rasio melewati 1.20, pasar mulai memasuki akselerasi dan euforia. Ini tidak berarti harga akan langsung jatuh, tetapi risiko matematis mulai meningkat cukup signifikan.
Sekarang, inilah bagian penting: tidak ada indikator yang dapat memprediksi masa depan.
Rasio AHR999 tidak berguna untuk menebak dasar yang sempurna atau untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Bitcoin besok. Faktanya, pasar bisa tetap dalam zona 'akumulasi' selama berminggu-minggu sementara harga terus turun atau bergerak sideways.
Itulah sebabnya, dalam workshop kami, kami melihat jenis metrik ini sebagai kompas, bukan sebagai bola kristal. Kegunaan nyata adalah untuk membantu membuat keputusan dengan lebih sedikit emosi dan lebih banyak konteks ketika pasar memasuki ekstrem psikologis.
Karena pada akhirnya, perbedaan antara bereaksi dan mengakumulasi hampir selalu terletak pada disiplin.
Sampai giliran berikutnya!
