Penurunan efisiensi, penurunan peringkat performa, atau gangguan rantai pasok menyebabkan biaya menjadi mahal. Hal ini disebabkan oleh Faktor geopolitik, cuaca ekstrem, dan kurangnya kontainer sering menyebabkan gangguan. Yang mengakibatkan "pengurangan" atau hambatan dalam pergerakan barang, bukan pengurangan permintaan barang itu sendiri.
1. Dominasi dan "Monopoli" Infrastruktur Utama
Tiongkok tidak hanya mendominasi volume barang, tetapi juga menguasai sarana pendukungnya secara signifikan:
Produksi Kontainer: Tiongkok memiliki monopoli virtual dengan memproduksi 95% kontainer pengiriman dunia dan 86% pasokan sasis intermodal.
Pembuatan Kapal: Pangsa pasar pembuatan kapal Tiongkok melonjak dari 5% pada 1999 menjadi lebih dari 50% pada 2023.
Pelabuhan Terpadu: Tiongkok memiliki 7 dari 10 pelabuhan tersibuk di dunia (seperti Shanghai dan Ningbo-Zhoushan) dan telah berinvestasi di lebih dari 100 pelabuhan di seluruh dunia melalui Belt and Road Initiative (BRI).
2. Ketimpangan Produksi & Arus Barang
Ketimpangan terjadi karena Tiongkok berperan sebagai pusat produksi utama, sedangkan banyak negara lain hanya menjadi konsumen atau pemasok bahan mentah.
Ketergantungan Ekspor: Pangsa ekspor global Tiongkok naik dari 12% pada 2020 menjadi sekitar 18% pada 2024.
Efek Domino: Ketika terjadi gangguan di Tiongkok (seperti masalah kebijakan atau perubahan produksi), dampaknya langsung terasa ke seluruh rantai pasok global karena posisi sentralnya sebagai global supply chain hub.
3. Masalah "Logistik Satu Arah"
Ketimpangan ini sering menyebabkan inefisiensi logistik bagi negara lain. Contohnya, banyak kapal atau kontainer yang datang penuh ke suatu negara dari Tiongkok, namun kembali dalam keadaan kosong atau kurang muatan karena negara tujuan tidak memiliki kapasitas produksi ekspor yang sebanding. Hal ini membuat biaya logistik per unit menjadi jauh lebih mahal bagi negara-negara tersebut.
Dampaknya? Banyak negara kini mulai menerapkan strategi "China +1", yaitu mencoba mendiversifikasi produksi ke negara lain (seperti Vietnam, India, atau Indonesia) untuk mengurangi ketergantungan yang terlalu besar pada satu pusat logistik.
Jadi Logistik menjadi salah satu pasar yang akan menguntungkan dalam kondisi geopolitik saat ini.
Sudah banyak metode2 terbaru dengan modal kecil untuk memulainya. Dibandingkan menunggu sesuatu yang belum pasti, melakukan spending investasi di bidang logistik akan sangat menguntungkan. Taro dibawah harga pasar saja langsung diborong bila tidak ingin terbuang mubazir.
Misalnya di Indonesia, harga tanah yang terus meningkat menjadi masalah kebanyakan orang. Tapi tidak dengan tanah pertanian, harganya masih sangat terjangkau dari 50-300rb saja atau sekitar $3 - $20 per meter persegi.
